Catatan Kuratorial:
Episode kedua Nanocinema kali ini, pilihan saya masih subyektif. Ini terpaksa saya lakukan sembari menunggu pasokan film-film di luar komunitas kami Wlingiwood. Saya mengajukan tema "AKAR RUMPUT" dengan fokus di Blitar. Sejauh yang saya tahu, masih komunitas kami yang konsisten dan berkesinambungan menyelenggarakan kegiatan film dalam 9 tahun terakhir ini. Saya memilih film-film kami sendiri yang menandai pergerakan komunal ini.
Tanggal Merah, film pertama yang dibikin bareng ekskul (klub film) SMAN 1 Talun. Film ini dibikin tahun 2009 dengan teknologi dan pengetahuan ala kadarnya. Kamera memakai kamera saku yang punya fiur video dengan resolusi 480p. Editing dilakukan memakai Windows Moviemaker bawaan OS Windows XP yang sangat simpel dan terbatas. Cerita ditulis oleh anak-anak anggota ekskul yang digawangi Linda Budiarti, Actavia Novitasarie dkk. Pelaksanaan teknisnya saya yang memimpin (dengan keterbatasan pengetahuan saya saat itu). Filmnya bercerita tentang seorang siswi yang hamil lalu meninggal keguguran gara-gara didorong oleh temannya di ruang kelas. Akibatnya ruang itu jadi berhantu. Cerita yang simpel dan kacangan. Akan tetapi saya maupun anak-anak ekskul saling belajar di situ. Film ini tak punya value secara kritis apresiatif namun punya posisi penting dalam menandai pergerakan film kabupaten. Bisa saya bilang ini termasuk film pendek indie pelajar Indonesia pasca reformasi. Karena 2009 masih masuk dalam dasawarsa tahun 2000an. Ini film bersejarah. Sayangnya ada 3 klip yang hilang dan belum ditemukan.
Sandera adalah film pertama saya yang serius secara naratif maupun teknis. Film ini juga sekaligus menandai lahirnya komunitas Wlingiwood Filmmakers. Ceritanya tentang penyanderaan di dalam penyanderaan. Saya sejak dulu ingin membuat film laga dengan cerita yang lebih baik. Film ini, terlepas dari kekurangannya, menandai 2 hal. Pertama film laga pertama kelas kabupaten yang kami garap serius, kedua menandai lahirnya komunitas yang terus berproses hingga 10 tahun ke depan.
Anxietus Domicupus adalah pencapaian yang menurut saya tak cuma secara pribadi. Film ini merupakan awal film bergaya B movie bergenre laga bisa diapresiasi di level festival nasional. Film ini juga membawa saya masuk Industri. Saya melepaskan diri dari beban jargon bahwa sinema daerah harus bawa kedaerahan. Saya menolak dengan sadar dan malah membikin alam dan karakter yang absurd. Film ini berhasil diterima secara apresiatif di kalangan festival. Memang, menjaga identitas daerah penting namun nggak semua yang berada di daerah harus melakukannya. Seni adalah kebebasan berekspresi. Lewat film ini pula saya memperkenalkan Wlingiwood ke kalangan elit sinema.
3 film yang kami putar, semuanya merupakan wujud nyata perjuangan sinema dari akar rumput. Tanpa sokongan birokrasi, tanpa campur tangan sineas yang sudah mapan.


